Terinspirasi Bunga Sakura

Setelah membaca dan melihat berita ” Washington Rayakan 100 Tahun Pohon Sakura” beserta foto-fotonya di situs www.voaindonesia.com saya begitu amazing banget ” Waaw…, ini hebat Subhanallah indah sekali” gumamku, melihat pemandangan dari hasil jepretan sang fotografer dari Getty.Emage (tapi setelah voa berubah dengan tampilan barunya, saya tidak bisa melihat galeri fotonya lagi) “hmm”. Pohon-pohon Sakura atau Cherry Blossom ini adalah pemberian hadiah dari Walikota Tokyo Jepang dan Pemerintah Jepang, “mmm”….lama juga ya, berarti pohon Sakura bisa hidup mencapai 100 tahun, tapi itupun katanya ada pohon-pohon baru yang sudah dibiakkan. Dalam festival tahunan ini dituliskan banyak kegiatan yang diselenggarakan, terutama yang menampilkan kebudayaan Jepang dan jenis tari-tarian khas Jepang.

Sepertinya disaat berkembang pohon Sakura atau kalau di dalam bahasa Jepang-nya disebut “Hanami” itu tidak kelihatan daunnya, yang saya lihat di foto-foto si begitu, ya maklum saja saya belum pernah melihat langsung apalagi menyentuhnya, jadi terlihat seperti pohon bunga tanpa daun.

Saya merasakan ingin yang sangat, untuk menikmatinya langsung pemandangan bunga sakura yang sedang mekar ini. Baik di Jepang sendiri atau di Washington. Dc, “wehweh… ” sangat sulit mungkin, itu hanya mimpi saat ini pikirku. Jangankan yang di sana, yang di Cibodas saja saya belum pernah melihatnya, yang satu-satunya tempat ditanam pohon Sakura di Indonesia, yang katanya bisa dinikmati dua kali musim berbunga dalam satu tahun, ini berbeda dengan yang di Jepang atau di Washington.DC ,yaitu antara bulan Januari-Februari dan antara Agustus-September, menurut sumber dari blog Info Indonesia yang saya baca.Dan Taman bunga Sakura di Cibodas itu sudah dibuat sejak tahun 2007, yang tertanam kurang lebih 400 pohon Sakura. Kupikir ini sangat bagus, dengan begitu saya tidak harus jauh-jauh pergi ke Jepang apalagi ke Washington hanya untuk melihat hanami, cukup dengan datang ke Cibodas, Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Sebenarnya saya sudah pernah ke Cibodas sekitar tahun 1999, tapi waktu itu belum ada, jadi ya harus kesana lagi deh. Baiklah mudah-mudahan nanti bisa menikmati hanami disana bersama sang pujaan hati “hihihiii”….

Dari dulu sejak saya tahu bunga Sakura, saya sudah suka dan terkagum-kagum sama bunga Nasional Negeri Jepang ini. Sampai- sampai sempat terlintas nanti kalau saya mempunyai taman bacaan, toko atau apalah akan saya beri nama “Sakura” “wedeuww….” ngimpi lagi neh. “hehehe”
Dari awal saya sudah dibuat bingung tentang tema apa yang mau ditulis dalam blog saya ini. Soalnya saya tidak punya banyak pengetahuan yang mumpuni untuk diterbitkan di blog saya. Pokoknya pusing deh, tapi saya ingin menjajal diri saya sendiri untuk membuat sebuah tulisan. Setelah saya tahu di facebook ada kontes blog-nya voa, saya tertarik untuk ikutan, walaupun blog saya ini belum menarik seperti blognya orang lain, disamping sambil belajar membuat blog, ya terang saja, siapa sih orangnya yang gak pingin hadiah. Daripada tidak mencoba sama sekali, mungkin akan lebih menyesal daripada menyesal karena tidak mendapatkan hadiahnya, setidaknya saya dapat mengetahui tulisan saya “gimana sih” jadinya.

Yang saya tahu tentang Sakura adalah bunga dari Jepang, kalau ingat Sakura langsung pikiran ku pada Jepang,dan segala sesuatu tentang Jepang seperti komik, harajuku, dan Tsunami Jepang yang terjadi hampir setahun yang lalu 11 Maret 2011.( Apa hubungannya dengan tsunami) “hadeuh”.

Sebenarnya si ide ini sudah lama, hanya saja baru kali ini saya coba tulis di blog, tentu saja dengan versinya saya. Suatu hari saat pikiran saya sedang perfungsi,… mungkin dan mood saya lagi baik, saya kepikiran membuat bunga Sakura-sakura-an dari kelopak bawang putih (kulit yang membungkus si bawangnya), yang berwarna putih transparan. Saya mengumpulkan kulit bawang tiap kali masak (padahal jarang masak si sebenarnya hehehe), dan kebetulan ibu sering beli telur dalam jumlah agak banyak, biasanya didalamnya suka ada kulit-kulit bawang putih itu sebagai bahan untuk menahan telur supaya tidak pecah, saya mengumpulkan sampai sekantong plastik besar. Tapi baru-baru ini sisanya sudah dibuang karena saya tidak pernah membuat lagi bunga sakura-sakura-an dikarenakan males dan sibuk bekerja sampai hari Sabtu (sok sibuk). Jadi tidak cukup punya banyak waktu untuk berkresi lagi.

Nah, caranya bagaimana ya? saya bentuk tuh si kulit bawang putih itu menjadi kelopak-kelopak kecil, lalu tempelkan dengan lem (bukan lem kertas yang krim) lem yang cair seperti lem sepatu. Mungkin bisa ditempelkan di ranting-ranting yang dikeringkan, sepertinya akan lebih bagus, tapi saya mencobanya di kertas karton hitam, kelopak-kelopak tersebut saya bentuk melingkar menyerupai bentuk bunga lalu di tengahnya saya kasih bunga rumput kering sebagai putiknya. Untuk batangnya saya gunakan kelopak kacang merah yang dipotong-potong, dan ditempel berjajar membentuk tangkai/batang. Seperti ini neh fotonya saya ambil sendiri, “tapi mirip gak si”.

Selain itu saya kreasikan kedalam tempat pencil yang saya buat dari kertas kardus yang dipotong lima bagian, yang cukup untuk membentuk sebuah kubus yang menyerupai tempat pencil, lalu setelah itu saya balut dengan tali yang terbuat dari pelapah pohon pisang yang dikeringkan, untuk mempercantik tampilannya saya tambahkan bunga sakura buatan saya tadi itu, dan jadilah seperti ini

difoto pake hp

ini sudah lama si saya buat tapi masih awet menghiasi meja butut saya di kamar. Lumayan buat naruh kaca mata jelek.. “hehehe”.

Sebenarnya saya juga melihat ini awalnya dari sebuah acara di televisi, tapi sudah lupa stasiun tv apa, waktu itu ada seorang ibu yang sukses menyulap kulit bawang menjadi barang seni, hasil karyanya diperlihatkan, bagus dan mempunyai nilai seni dan nilai jual yang tinggi, diberi bingkai dan perfect banget. Sangat beda jauh dari yang saya coba ini. Ya itulah hasil saya di waktu luang, yang pengerjaannya butuh beberapa hari libur, karena disela-sela kesibukan yang lain. Lumayan saja buat koleksi pribadi, yang bukan tidak mungkin suatu hari bisa saya tekuni lebih baik lagi, mungkin saja.”Amin”.

Advertisements